Sang Arsitek Stasiun: Ir. FJL Ghijsels

Akihary, 2006)

Sang Arsitek (Sumber: Akihary, 2006)

Sang Arsitek
Riwayat singkat FJL Ghijsels di bawah ini disarikan dari buku drs. H. Akihary, Ir. F.J.L. Ghijsels, Architect in Indonesia (1910 – 1929) (halaman 14-23). Pada tanggal 8 September 1882 di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Tulung Agung, lahirlah seorang anak yang bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels. Kedua orang tuanya adalah warga Belanda yang menetap di Indonesia. Tidak diketahui pasti apa pekerjaan sang ayah di negeri ini, dan kapan tepatnya mereka kembali ke Belanda. Namun yang pasti pada tahun 1903 Ghijsels terdaftar mengambil studi Arsitektur di Sekolah Tinggi Teknik Delft (kini Universitas Teknik Delft). Ketika kuliah Ghijsels memiliki kemampuan menggambar di atas rata rata mahasiswa angkatannya. Pada tahun 1909 pemuda Ghijsels berhasil menyelesaikan studinya, dan mendapatkan gelar diploma teknik.

Akihary 2006)

Foto Keluarga di beranda rumah, 1915 (Sumber: Akihary 2006)

Ketika berumur 28 tahun Ghijsels menikah dengan Elisabeth (Johanna Antonia) de Regt pada tanggal
8 September 1910 di Rotterdam. Tidak sampai sebulan kemudian, pada tanggal 6 Oktober kedua pasangan menaiki kapal laut yang membawa mereka berbulan madu melalui Paris dan Genoa, sebelum menuju Batavia. Pasangan Ghijsels tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada tanggal 30 Oktober 1910. Dimulailah petualangan arsitektur Ghisels di negeri tropis ini.


Ghijsels di Hinda Belanda

Awal mula kehadiran Ghijsels di Hindia Belanda sesungguhnya berawal ketika pada 5 Juni tahun 1909 Departemen Pekerjaan Kota (Municipal Works Department) Batavia mengeluarkan peraturan baru tentang pendirian dan pembongkaran gedung yang membutuhkan tenaga ahli /arsitek dalam pengawasannya. Departemen tersebut kemudian membuka lowongan bagi arsitek untuk bekerja di bagian tersebut, ketika tenaga ahli yang ada mengundurkan diri pada Oktober 1909. Akhirnya Ghijsels memutuskan menulis surat lamaran pekerjaan pada akhir Januari 1910. Jawaban bahwa Ghijsels diterima bekerja di Hindia Belanda datang pada musim panas 1910. Tampaknya keinginan Ghijsels bekerja di Hindia Belanda dipengaruhi oleh latar belakang riwayat kelahirannya di Tulung Agung.

Akihary, 2006)

Dengan kedua putri, Nora dan Carla (Sumber: Akihary, 2006)

Ketika tiba di Batavia, Ghijsels dan isteri mendiami sebuah rumah tua abad ke 19 di daerah Weltevreden, tepatnya di jalan Gondangdia no 8 – Cikini. Setelah bekerja selama dua tahun di Kotapraja, tahun 1912 Ghijsels meninggalkan Departemen Pekerjaan kota dan pindah bekerja pada Departemen Pekerjaan Umum – divisi Arsitektur di Batavia (Department of Public Works – BOW) Batavia. Pada tahun 1914 Ghijsels merancang arsitektur rumah sakit KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) di Batavia – sekarang Rumah Sakit Pelni di Petamburan Jakarta. Pada saat itu Ghijsels telah meninggalkan BOW dan bekerja sebagai arsitek swasta di Batavia. Setelah pekerjaan inilah pada tahun 1916 Ghijsels bersama beberapa rekannya – F. Stoltz dan Ir. Hein Von Esseen, mendirikan AIA – Algemeen Ingenieurs en Architectenbureau (General Engineers and Architects Bureau). Hingga tahun 1929 Ghijsels bekerja dan bertanggung jawab atas desain desain arsitektur dari AIA. Termasuk dalam pekerjaan AIA adalah pekerjaan rencana tata kota (urban planning) kota Bandung yang menurut rencana dipersiapkan sebagai ibu kota baru Hindia Belanda. AIA berkembang pesat, sehingga banyak pekerjaan pekerjaan yang datang tidak hanya di dalam lingkungan kota Jakarta (Batavia), tetapi hingga Yogya dan Surabaya serta Sumatera Selatan. Bahkan pada tahun 1927 AIA mendirikan cabang di Surabaya. Seringnya Ghijsels berpisah kota

Akihary, 2006)

SIM milik Ghijsels (Sumber: Akihary, 2006)

Pada tanggal 1 Juni 1927 Ghijsels harus berpisah dengan isteri dan kedua putrinya yang berusia 13 tahun dan 16 tahun yang akan pindah menetap di Swiss karena pertimbangan kesehatan isteri Ghijsels. Ketika Stasiun Jakarta Kota diresmikan oleh gubernur jenderal Hindia Belanda, sang arsitek – Ghijsels sudah tidak lagi berada di Batavia. Pada tanggal 30 Mei 1928 Ghijsels berlayar meninggalkan Hindia Belanda menuju Genoa, untuk kemudian menetap bersama keluarganya di Negeri Belanda.

Beberapa arsitektur karya Ghijsels bersama AIA)adalah: Stasiun Kota (1928 – 1929), KPM Hospital Petamboeran (1914 – 1915), Kantor Pos di daerah Candi – Semarang, Kantor Pusat KPM (Sekarang kantor Departemen Perhubungan di jalan Medan Merdeka Timur) 1916 – 1918, Gedung Kantor Nillmij, sekarang kantor BNI – jalan Trikora 1 Yogyakarta (1922). Gemeentelijk Juliana Ziekenhuis, (sekarang RS. Hasan Sadikin) Bandung (1917 – 1919),

Akihary, 2006).

Kantor Pusat KPM, 1916 (Sumber: Akihary, 2006).

Gereja Roma Katolik, H. Josef (jalan Matraman Raya no. 129, Jatinegara), (1923 – 1924). Lodge fot the Order of Freemasons, sekarang Kantor Bappenas – jalan Suropati, Jakarta (1925), Sekolah Kristen, sekarang SMU PSKD jalan Diponegoro Jakarta (1926 – 1927), dan masih banyak lagi. Selain arsitektur, Ghijsels juga mendesain interior ruangan dan furnitur yang memadukan gaya moderen dan ukiran kayu. Bahkan pada tahun 1913 Ghijsels juga merancang sampul buku-buku untuk Departemen Pertanian. Industri dan Perdagangan.

Akihary, 2006).

Cover katalog pameran arsitektur, Batavia 1925 (Sumber: Akihary, 2006).

Bulan Desember 1925 diadakan pameran besar arsitektur di gedung asosiasi Seni Hindia Belanda (Kunstkring – eks gedung Imigrasi, di jalan Teuku Umar – Jakarta). Karya Ghijsels dan AIA mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari beberapa media massa. Misalnya The Indische Bouwkundig Tijds :
“The hand of Ghijsels can be recognized in the work of the AIA bureau, so that an unwavering voice speaks fro that which has been designed and built by the bureau. This applies to all the buildings. Changes can be detected in Ghijsels work, his later designs are more imposing and more austere in line. The design for the various country houses in which the master builder can be completely himself, not bound by the demands of clients, are the most appealing in the refinement of their conception (…) In the sketches we marvel at his talented drawing skills.” (Akihary, drs. H. 2006: 118).

Advertisements

4 Comments

Filed under Galeri Foto

4 responses to “Sang Arsitek Stasiun: Ir. FJL Ghijsels

  1. dgp

    Menarik sekali riwayat hidup sang arsitek ini…ada beberapa point yang menarik a.l :
    1. Ternyata tempat kelahiran Sang Artitek adalah Tulungagung msh wilayah Hindia Belanda; mungkin sedikit ada koreksi bahwa daerah Tulung Agung itu berada di Provinsi Jawa Timur bukan Jawa Tengah. Kebetulan saya orang tulung agung jadi tahu betul riwayat beliau. Ghijsels lahir di Tulungagung – Jatim, 8 September 1882. Seperti kebiasaan
    dari banyak keluarga Belanda terkemuka di Hindia Belanda pada waktu itu, bila
    seorang anak dianggap cukup umur untuk menerima pendidikan dasar, maka si anak
    dikirim ke Belanda untuk menerima pendidikan dasarnya hingga perguruan tinggi.
    Demikian juga halnya dengan Ghijsels. Setelah menamatkan pendidikannya dasar dan menengahnya, Ghijsels
    belajar arsitektur di Polytechnic Delft pada th. 1903. Waktu itu disiplin arsitektur
    masih merupakan bagian dari jurusan “Civil Engineering”. Baru setelah tahun 1905
    disiplin arsitektur berdiri sendiri terpisah dari jurusan sipil (Akihary, 1996:14). Masa
    studinya juga diperpanjang dari 4 tahun menjadi 5 tahun, nama Polytechnic
    kemudian berubah menjadi “Technical High School Delft”
    Pada th. 1905 Ghijzels sudah menyelesaikan tahun-tahun pertama bersama
    engan rekan-rekannya yang kelak juga menjadi arsitek terkemuka di Hindia Belanda
    seperti Henri Maclaine Pont, Thomas Karsten1 dan lain-lainnya. Baru tahun 1909
    Ghijzels lulus sebagai sarjana arsitektur. Pada th. 1909 setelah lulus ia bekerja pada
    biro “Gerrit van Arkel” di Amsterdam.
    2. Semboyan Ghijsels adalah “Simplicity is the shortest path to beauty” menunjukkan bahwa ia adalah seorang arsitek modern yang berpandangan
    rasional.
    3. Ia termasuk generasi pelopor perubahan arsitektur langgam “Indische
    Empire” yang masih banyak dianut pada akhir abad ke 19. menjadi arsitektur kolonial
    modern pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.
    Terim kasih……..

  2. Huib Akihary

    The book: Ir. F.J.L. Ghijsels, Architect in Indonesia (1910 – 1929) was published in 1996 by Seram Press. In 2006 followed by a reprint.

    drs. Huib Akihary

  3. grafisosial

    terimakasih informasi dan ralatnya. Untuk pembaca, mohon maaf utk kesalahannya. Telah kami koreksi

  4. Kalau saya perhatikan, bentuk stasiun Kota Baru di Malang juga hampir mirip dengan Stasiun Kota di Jakarta. Apa kira-kira arsiteknya orang yang sama ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s