STASIUN JAKARTA KOTA [TIDAK] DIJUAL

stasiun-jkt-kt2

Sejarah
Tanggal 8 Oktober 2009 mendatang usia Stasiun Jakarta Kota, yang sering disebut sebagai stasiun Beos, akan genap berusia 80 tahun. Kata “Beos” diperkirakan berasal dari nama Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya

Stasiun ini diresmikan pada tahun 1928 oleh Gubernur Jendral JHR. A.C.D. de Graeff. Dirancang sebagai sebuah arsitektur bergaya Art Deco, oleh seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, FJL Ghijsels pada tahun 1928 dengan sebutan Stasiun Batavia Selatan (Batavia Zuid). Stasiun ini dianggap sebagai salah satu monumen terpenting dalam wacana arsitektur bergaya Indis (Indische Bouwen) – gaya yang memadukan unsur arsitektur moderen barat dengan nilai nilai lokal (Akihary, H. 2006: 84),

Akihary, drs.H., 2006)

Pintu Utara dalam pembangunan (sumber: Akihary, drs.H., 2006)

Stasiun Jakarta Kota telah menjadi bagian tak terpisah dari sejarah kota tua Jakarta. Hal ini diperkuat dengan penetapan stasiun sebagai cagar budaya berdasarkan SK Gubernur no. 475 tahun 1993. Mengingat statusnya sebagai cagar budaya itu, PT Kereta Api Indonesia Persero telah merawat dan merenovasinya dengan baik. Kios kios yang dulunya penuh sesak di dalam stasiun telah menjadi area yang rapi dan bersih.

Komersialisasi Stasiun
Seiring berjalannya waktu terjadi beberapa perubahan di dalam maupun di luar stasiun. Lalu lintas di depan stasiun yang semakin padat, menyebabkan arus penumpang dialihkan ke pintu utara dan selatan – sementara pintu utama stasiun kini ditutup dan dipagari. Hal ini menyebabkan konsep arsitektur stasiun ini menjadi tidak lagi ideal. Selain itu stasiun Jakarta Kota kini dipenuhsesaki oleh iklan rokok. Papan iklan tersebut menyebar disekitar 140 tempat, mulai dari pintu masuk bagian Utara dan Selatan hingga papan petunjuk ruang di dalam Stasiun.

Pintu Utara yang dipenuhi iklan rokok

Pintu Utara yang dipenuhi iklan rokok

Keberadaan iklan-iklan itu tidak saja mengganggu keindahan bangunan, namun juga bertentangan dengan fungsi stasiun sebagai sebuah kawasan tanpa asap rokok. Komersialisasi Stasiun Jakarta Kota ini sempat menghangat di tahun 2006, ketika sejumlah surat kabar memberitakan rencana pendirian mal dalam kawasan stasiun. Memang rencana tersebut tidak terdengar lagi kabar kelanjutan -ataupun pembatalannya.

Sebuah Arena Pertarungan
Stasiun Jakarta Kota memang telah menjadi arena pertarungan antara kepentingan warga kota di satu sisi, dengan komersialisasi dan privatisasi. Hal ini tidak bisa dipisahkan dengan fungsi PT Kereta Api Indonesia yang telah berubah status menjadi Persero – yang harus memenuhi kebutuhan dan kewajibannya secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Oleh karena itu terkait dengan status Stasiun Jakarta Kota sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang, maka pemerintah dan masyarakat luas turut bertanggung jawab untuk terlibat mendukung PT Kereta Api Indonesia dalam memelihara kelestarian bangunan bersejarah ini. Stasiun Jakarta Kota adalah sebuah bagian tak terpisah, sebuah monumen dalam memori bersama warga kota, menjadi sebuah tanda bagi kota metropolitan dalam proses pembentukan sejarah warganya, bahkan sejarah bangsa ini. Mari kita cintai bangunan caagar budaya ini. Lindungi aset historis kota Jakarta dari komersialisasi dan kerakusan korporasi besar dan para pemilik kapital yang tak pandai menghargai pelajaran dari masa lalu.

Daftar Pustaka (buku dan internet)

Akihary, drs. H., Ir. FJL Ghijsels, Architect in Indonesia (1910-1929), Utrecht: Seram Press, 2006.
Majalah Trust, http://www.majalahtrust.com/bisnis/profil/689.php, diakses 22 Desember 2008
Sinar Harapan Rabu 19 Mei 2004, http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/19/jab07.html, diakses 26 Desember 2008
Kompas, http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/21/0419314, diakses 26 Desember 2008
Warta Kota 11 Mei 2004 – di akses tanggal 26 Desember 2008 dari http://www.arsitekturindis.com
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jakarta_Kota, diakses 26 Desember 2008

Advertisements

3 Comments

Filed under Galeri Foto

3 responses to “STASIUN JAKARTA KOTA [TIDAK] DIJUAL

  1. Sebetulnya kurang akurat untuk mengatakan Beos ini bergaya art deco. Memang betul, ada beberapa detil dekoratif yang bernafaskan art deco (misalnya detil dekoratif pada bagian fasad tempat pintu masuk). Tapi kalau dilihat bagian lain (misalnya bagian wing), justru lebih mengarah ke nieuwzakeleijheid (moga2 tidak salah eja). Sedangkan bagian interiornya juga menarik. Kalau di dekat peron, di tempat menunggu, perhatikan bagaimana unsur konstruksi diperlihatkan secara jujur. Ini mungkin merupakan pengaruh dari Violet-le-Duct, via Berlage. Hal ini bukan merupakan sebuah gaya, tapi lebih merupakan sebuah prinsip dalam merancang (prinsip kejujuran sebuah bangunan).

    Kalau saya perhatikan, masalah Beos sekarang jelas pelik. Ada masalah yang menyangkut tata kota, ada masalah komodifikasi yg umum di Indonesia (bahkan demokrasipun dijadikan komoditas), ada masalah keterputusan memori akibat penjajahan (ah, ya, pembicaraan pasca-kolonialisme)….Jadi, penyelesaiannya memang harus komprehensif (sebagaimana diketahui banyak orang nih).

  2. windy

    please do not commercial the stasiun, because that is one of building that have the real history of Jakarta

  3. grafisosial

    Terimakasih Nanda untuk koreksi nya, akan saya input di artikelnya.
    Terima kasih Windy untuk dukungannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s