Stasiun (dan Kereta Api) yang Penuh Harapan

ahmad-sujadi


WAWANCARA DENGAN AKHMAD SUJADI

Penulis buku berjudul “Harapan Baru Perkeretaapian”, adalah Akhmad Sujadi, S.IKom. Buku berisi kumpulan tulisan dari Kepala Hubungan Masyarakat (Kahumas) Daerah Operasi (Daop)1 Jakarta, di berbagai media massa tersebut memang masih diterbitkan dalam jumlah terbatas. Namun tulisan-tulisan dalam buku itu menunjukkan pemikiran pemikirannya yang optimis seputar dunia perkeretaapian, serta menggambarkan pemahamannya yang mendalam tentang berbagai hal di dalam dunia tersebut. Buku itu menggambarkan secara optimis masa depan perkeretaapian di Indonesia, bila ditangani dengan cermat. Ketika ditemui di ruang kerjanya, di Stasiun Jakarta Kota, hari Kamis pagi 22 Januari 2009, Akhmad Sujadi menjelaskan banyak hal mengenai berbagai kemajuan yang dicapai oleh PT Kereta Api maupun pembenahan Stasiun Jakarta Kota.

Perbaikan dan Perawatan Stasiun
PT Kereta Api memang tampak melakukan banyak pembenahan dalam lingkungan stasiun, mulai dari stasiun Jakarta Kota, Tanjung Priok, Pasar Senen, Tanah Abang dan Gambir. Secara sekilas pembenahan dalam lingkungan Stasiun Jakarta Kota juga terlihat, misalnya lantai keramik berwarna krem, yang memberi nuansa klasik namun tetap bersih. Sementara kios-kios di dalam stasiun yang berjubel kini hanya tinggal beberapa saja. Sehingga ruang yang ditinggalkan kini difungsikan untuk kebutuhan ruang kantor PT Kereta Api. Pembenahan lebih jauh dilakukan termasuk dengan menghidupkan kembali jalur Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Tanjung Priok. Stasiun yang terakhir ini menurutnya adalah stasiun tua yang telah direnovasi dengan indah. Menghidupkan jalur /rel kereta api yang telah lama mati (2001), berarti membersihkan jalur tersebut dari pemukiman-pemukiman liar yang kumuh. Untuk itu PT Kereta Api melakukan pendekatan persuasif dan upaya pemeberdayaan warga (community development) sekitar rel kereta, dengan merekrut beberapa warga sebagai karyawan kebersihan Stasiun. Selain itu PT Kereta Api pun mendirikan kios kios berjualan di luar lokasi rel, yang dapat menjadi mata pencaharian warga sekitar rel. Hal ini merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) PT Kereta Api bersama berbagai instansi pemerintah lainnya. Singkatnya, Akhmad Sujadi secara terbuka dan sangat informatif menjelaskan betapa PT Kereta Api sebagai sebuah persero yang profesional telah berupaya merenovasi dan meningkatkan mutu pelayanan stasiun dengan prinsip Clear, Clean, Green (Bersih, Tertib, dan Hijau).

Permasalahan
Ketika ditanyakan mengenai penutupan pintu utama Stasiun Jakarta Kota, Akhmad Sujadi menjelaskan bahwa hal tersebut dikaitkan dengan pendirian halte dan jalur Busway yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah DKI, sehingga mengorbankan taman sebagai ruang terbuka milik PT Kereta Api. Pembangunan halte Busway ini bersama-sama peningkatan jumlah kendaraan bermotor, memang makin membuat lalu-lintas di muka stasiun makin semrawut. Hal ini didukung arus penumpang busway melalui Jalur Penyeberangan Orang (JPO) di bawah tanah yang pintu keluar/masuknya berada di dekat pintu selatan. Kahumas juga menjelaskan bahwa kebutuhan akan ruang kantor bagi Stasiun Jakarta juga dapat terpenuhi dengan penutupan pintu utama tersebut.

Di pintu utara maupun selatan, kita akan disambut iklan rokok.

Di pintu utara maupun selatan, kita akan disambut iklan rokok.

Selanjutnya, mengenai penggunaan ruang stasiun sebagai ruang iklan, Akhmad Sujadi menjelaskan bahwa hal tersebut adalah kebijakan yang diambil PT Kereta Api di tingkat kantor pusat (Bandung) dimana pihak Daop 1 Jakarta. Pemasangan Iklan yang dominan di stasiun-stasiun seluruh stasiun di Indonesia dimonopoli oleh satu merek perusahaan rokok. Pemasangan iklan rokok itu bahkan mencakup pintu masuk dan papan nama resmi stasiun. Kontrak dengan perusahaan rokok tersebut berjangka waktu 3 (tiga) tahun. Hasil dari kontrak iklan tersebut, sekitar Rp. 30 milyar memang dibutuhkan oleh PT Kereta Api mengingat kewajiban sebagai persero yang harus mandiri.

Berdasarkan pemberitaan di berbagai surat kabar pada tahun 2006 tersiar kabar bahwa PT KA menggandeng PT Sari Bumi Eramaju untuk merenovasi Stasiun Jakarta Kota menjadi stasiun modern yang dilengkapi mal diatas lahan seluas 35.000 meter persegi. Kerjasama dengan pola BOT (built, operate, transfer) itu menelan investasi Rp 239 miliar ( diakses tanggal 27 Desember 2008 dari Tanti Johanna – mengutip Kompas, Selasa 11 Mei 2004, dalam http://arsitekturindis.wordpress.com 2004/05/11/renovasi-stasiun-kota-jangan-seenaknya). Ketika penulis menyinggung masalah pendirian mal dalam bangunan cagar budaya ini, Akhmad Sujadi menjelaskan bahwa tidak ada rencana pembatalan MOU tersebut.

Advertisements

3 Comments

Filed under Wawancara

3 responses to “Stasiun (dan Kereta Api) yang Penuh Harapan

  1. H.Suhada

    oke boss bagus

  2. Mr. Go

    waduh… pas bener nie… topik yang saya ambil CSR juga..
    mohon izin dari pak A. sujadi untuk wawancara langsung… ^^

  3. blackHornett

    bacot lu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s