Jakarta Biennale XIII 2009

logo1

Blog Cinta Stasiun Kota Jakarta disusun oleh Grafisosial dalam rangka Jakarta Biennale XIII 2009, dalam Zona Pertarungan, yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Zona ini mengangkat isu terjadinya pertarungan dan tarik-menarik kepentingan dalam lingkup kota (dalam hal ini kota Jakarta tentu).

Grafisosial mengikuti rangkaian kegiatan workshop Situs Spesifik (lahan khas) selama bulan November yang diadakan di Ruang Rupa di bilangan Tebet – Jakarta Selatan. Setelah melalui diskusi kelompok yang sangat intens bersama kawan-kawan peserta lainnya, serta proses kuratorial ketat bersama Kurator Situs Spesifik Ardi Yunanto, akhirnya Grafisosial memfokuskan diri pada fenomena Stasiun Jakarta Kota sebagai sebuah bangunan tua yang telah dilindungi oleh UU Cagar Budaya. Stasiun Jakarta Kota menjadi sebuah arena pertarungan kepentingan antara kepentingan sosial budaya dan historis milik publik, berhadapan dengan kepentingan ekonomi dari pemilik modal.

grafos-logo5

Tujuan dari proyek seni rupa mengenai Stasiun Jakarta Kota ini adalah meningkatkan awareness dan rasa cinta warga pada Stasiun Beos ini sebagai monumen atau tanda kota yang telah berusia 80 tahun. Mediun yang digunakan adalah perpaduan medium cetak (brosur) serta digital (blog). Diharapkan dengan meningkatnya perhatian dan cinta warga terhadap nasib Stasiun Jakarta Kota, maka kelestarian stasiun ini pun akan terjaga pula. Oleh karena itu kita semua sebagai publik, wajib dan berhak untuk terlibat dalam proses yang terus-menerus dari pelestarian arsitektur Stasiun Jakarta Kota. Stasiun Jakarta Kota adalah adalah sebuah monumen dalam memori kolektif kita semua – khususnya warga kota Jakarta.

Catatan:
Grafsosial adalah kelompok kerja perancang grafis yang melakukan perancangan, pendokumentasian, dan penelitian desain grafis untuk kepentingan sosial. Dalam proyek Jakarta Biennale XIII 2009 ini tim kerja Grafisosial yang terlibat adalah: Pengarah Seni dan Perancang Grafis: Toto M. Mukmin, dibantu Perancang Grafis Agus Danarto, Fotografer: Kurnia Setiawan, Penulis naskah: Arief Adityawan S. Tim Distribusi: Gren Freskito, Ryan, William, Rebecca, Bedu, Thomas, Wira, Koes, didukung oleh Enrico Halim.

logo_DKJ on white


PIDATO PEMBUKAAN JAKARTA BIENNALE
Marco Kusumawijaya
Ketua Pengurus Harian/Dewan Kesenian Jakarta

JAKARTA BIENNALE 2009

Ada dua perbedaan pokok antara Bienale Jakarta sebelumnya dengan Jakarta Biennale 2009. Pertama, ini kali pertama ia bersifat internasional. Kedua, ia disandingkan dengan berbagai kegiatan dari berbagai cabang seni, dalam suatu kerangka lebih besar yang disebut “Arena”.

Kami berharap dengan demikian Jakarta Biennale 2009 dapat lebih dinikmati oleh kalangan lebih beragam, oleh khalayak luas, sambil memanfaatkan bentuk-bentuk kesenian sebagai sarana untuk memahami dunia sekeliling kita—ruang, kota, dunia—lebih mendalam, secara bebas di ruang-ruang khayalak.

Kita makin memerlukan prasarana khalayak yang sungguh terbuka dan inklusif, untuk membantu terselenggaranya integrasi masyarakat perkotaan. Kita tahu, kota-kota Indonesia—mungkin juga diseluruh Asia Tenggara dan dunia pada umumnya—sedang menghadapi 3 ancaman yang saling terkait: peran negara (sebagai wakil dari “yang publik”) yang makin menyusut, privatisasi yang makin meluas, dan sektarianisme yang makin agresif. Semuanya mudah dirasakan di ruang-ruang khalayak kita. Kita juga tahu, bahwa tidak mudah memelihara “yang publik” itu seratus persen. Misalnya, Gedung Imigrasi (a.k.a Gedung Kunstkring) di Jakarta yang telah diselamatkan—dibeli kembali dan dipugar—dengan dana APBD, telah kehilangan kepublikannya karena harus tergantung kepada swasta untuk pemanfaatan dan pemeliharaannya, menjadi suatu restoran kelas atas.

Sedang melalui pasar makin banyak karya seni menjadi simpanan di ruang-ruang pribadi. Sementara itu, ruang-ruang khalayak seperti museum dan lain-lain makin tidak punya kemampuan memelihara, apalagi menambah, koleksinya untuk dinikmati khalayak bersama. Harus kita akui, kota-kota kita memang telah berkembang tidak dengan sejarah kelas burjuasi yang kuat dan tercerahkan. Museum-museum di kota Jakarta terbangun bukan sebagai institusi masyarakat warga kota, tidak dengan dasar gairah yang kuat mengakar di masyarakat luas, tetapi secara tergesa-gesa sebagai milik negara yang juga belum memiliki sejarah sebagai pengelola yang baik. Belakangan ini makin gencar kita mendengar munculnya museum-museum koleksi pribadi. Kita belum tahu sejauh apa integritas museum-museum itu akan dapat menjadikannya bersifat cukup terbuka dan inklusif. Mungkin kita lebih tahu, bahwa museum-museum milik negara yang pasti akan mengalami kemunduran terus menerus.

Senyampang makin menyurutnya peran negara sebagai representasi “yang-publik”, makin besar pula “yang-swasta” berambisi menjadi atau menyatakan dirinya publik. “Yang publik” tidak lagi mendasarkan dirinya pada suatu konsensus institusional, melainkan pada pertarungan kuasa dan citra. Mau tidak mau warga kota masa kini terus menerus berada dalam kewaspadaan terhadap pergeseran-pergeseran tersebut.

Selain sebagai kesempatan membaca perkembangan senirupa, sebagaimana layak dan seharusnya suatu biennale, Jakarta Biennale 2009 juga bermaksud menegaskan keberadaan dan kehadiran khalayak dalam berbagai bentuknya yang mungkin di berbagai rupa ruang kota yang muncul dari pergeseran-pergeseran tersebut. Kesenian adalah juga medium. Dengan demikian kita dapat menilai beragam wujud khalayak dan ruang-khalayak itu sendiri, dan memperoleh suatu rasa akan perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat kota dan kotanya.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh panitia, seniman dan kurator yang telah serta mewujudkan Jakarta Biennale 2009. Mereka telah membantu kita memahami dunia secara kreatif. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua mitra kerja DKJ, dan kepada Gubernur DKI Jakarta dan segenap jajaran Pemda DKI Jakarta yang dengan aktif membantu terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan Jakarta Biennale 2009.

Selamat menikmati Jakarta Biennale 2009!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s